Selasa, 05 Mei 2009

Krisis Global Ancam Pekerja Media *


Ratusan jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) turun ke jalan memperingati May Day - Hari Buruh Internasional, Jumat (1 Mei 2009)

Krisis keuangan global melibas batas negara dan merontokkan semua sektor industri, termasuk media. Pada satu konferensi di Hongkong, International Federation of Journalist (IFJ), dua bulan silam, mengungkapkan data sedikitnya 12 ribu pekerja media di dunia terancam kehilangan pekerjaan dalam kurun 2008-2009. Sekitar 90 persen alasan pemecatan massal itu akibat bangkrutnya media tempat mereka bekerja. Sisanya, perusahaan mengalami kesulitan ekonomi.

Di Indonesia, iklim industri juga mulai terlihat lesu. Data Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) RI, selama periode Mei 2008 hingga April 2009, sekitar 40.874 pekerja di Indonesia telah dirumahkan akibat krisis. Rinciannya, 90 persen pekerja berasal dari sektor manufaktur, 6 persen di sektor jasa dan keuangan, dan 4 persen lainnya dari sektor ekspor, impor dan jasa lainnya.

Di sektor industri media, para pekerja media di Indonesia tampaknya juga hidup di bawah bayang-bayang krisis global itu. Data Depnakertrans, sejak November 2008 hingga April 2009, sekitar 94 persen pekerja media di Kalimantan, Sulawesi, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera, DKI Jakarta mengalami pemutusan hubungan kerja. Dari 94 kasus, 67 persen akibat perusahaan media mengalami kesulitan keuangan. Lalu 30 persen lantaran pensiun dini, dan 2 persen diputihkan masa kerjanya dengan dikontrak kembali. Sedangkan 1 persen akibat kasus sengketa pendirian serikat pekerja.

Hidup dan berdiri dalam ruang kompetisi antar-media yang tinggi, pasar yang kian kritis, ketidaan regulasi tentang modal, dan struktur ekonomi makro ekonomi di Indonesia yang semakin sulit seperti sekarang ini, tentunya berakibat buruk pada upah pekerja media.

pada situasi krisis, satu masalah yang butuh perhatian serius adalah tak adanya standar pengupahan jurnalis. Ada media yang bisa memberikan upah besar, tapi banyak pula media yang hanya mampu memberi upah pas-pasan bahkan di bawah UMP (Upah Minimum Provinsi) dan UMK (Upah Minimum Kota).

Rendahnya upah jurnalis berdampak pada kualitas karya jurnalistik. Lebih jauh, kondisi buruknya kesejahteraan wartawan akan berdampak buruk pada tugas bersama merawat ruang demokrasi yang sedang dibangun di negeri ini. Upah rendah menyebabkan jurnalis menjadi pragmatis, rentan terhadap suap, dan pada gilirannya menjadi tidak independen terhadap kekuatan di luar profesinya.

Karena itulah, AJI memandang pembangunan serikat pekerja adalah salah satu solusi bagi pekerja media di Indonesia. Selain memperjuangkan hak kesejahteraan, serikat juga menjadi ajang bagi pekerja media memperkuat daya tawar dirinya di tengah krisis. Melalui serikat pekerja pula, jurnalis memperkuat kapasitas profesionalnya dengan karya yang bermutu dan penghargaan yang pantas.

Berdasarkan kondisi tersebut, melalui momentum perayaan Hari Buruh Sedunia (Mayday) 2009, Aliansi Jurnalis Independen - yang berafiliasi kepada International Federation 0f Journalist's (IFJ) yang memiliki 600.000 anggota dan memiliki cabang di 120 negara - menyatakan sikap sebagai berikut :

1. Meminta manajemen perusahaan media untuk tidak menjadikan krisi global sebagai dalih menekan kebebasan berserikat, termasuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) atau 'memutihkan' status pekerja tetap menjadi pekerja kontrak dan outsourcing.
2. Meminta manajemen perusahaan media melakukan transparansi keuangan guna mengetahui alokasi anggaran setiap bagian dari proses produksi, untuk mencegah pemborosan atau melakukan penghematan.
3. Meminta manajemen perusahaan media mengalihkan hasil penghematan untuk memperbesar presentase anggaran bagi kesejahteraan pekerja.
4. Meminta manajemen perusahaan media mempersempit kesenjangan gaji terendah dan gaji tertinggi (pimpinan) untuk memenuhi rasa keadilan bersama dan melakukan penghematan.
5. Mendesak pemerintah mencegah upaya PHK massal di perusahaan media dengan tetap melindungi hak-hak pekerja seperti hak berorganisasi dan hak untuk mendapatkan kesejahteraan.

Jakarta, 1 Mei 2009

*) Pernyataan sikap Hari Buruh Sedunia (May Day) AJI Indonesia.
Read More..

Kamis, 30 April 2009

Perempuan Dalam Pertaruhan


Ucu Agustin, Lucky Kuswandi, Nia Dinata, dan Ani Ema Susanti saat menghadiri pemutaran perdana film dokumenter PERTARUHAN di Bioskop 21 Grage Mall Cirebon, Senin (27/04).

Libur Senin kemarin cukup menyenangkan. Tak cuma bisa istirahat, melupakan sejenak rutinitas kerja, tapi juga bisa jalan-jalan ke Grage Mall dan nonton di bioskop 21. Gratis pula! Saat duit gaji belum turun, duit di dompet cekak, memang paling asyik dapet yang gratisan. Penting tuh! Hehe…

***

Seminggu sebelumnya, seorang teman yang aktif di Fahmina Institute memberiku tiket gratis nonton pemutaran film dokumenter bertajuk PERTARUHAN. Sebuah antologi film dokumeter garapan Kalyana Shira Films dan Kalyana Shira Foundation yang selama ini hanya diputar di bioskop-bioskop Jakarta dan Bandung. Di Jakarta, PERTARUHAN sudah dirilis sejak 10 Desember tahun lalu. Lumayan lama juga. Tapi, bagi aku dan warga Cirebon yang menonton, PERTARUHAN adalah sebuah suguhan film yang baru.

Pemutaran perdana film PERTARUHAN di Cirebon dihadiri juga oleh sang produser Nia Dinata bersama sejumlah penulis/sutradara film dokumenter PERTARUHAN. Antara lain Ucu Agustin, Lucky Kuswandi, dan Ani Ema Susanti. Film berdurasi 106 menit yang terdiri dari 4 judul ini merupakan dokumenter kolektif yang berkisah tentang berbagai kontroversi seputar tubuh perempuan yang telah lama menjadi perdebatan di sekitar kita.

PERTARUHAN dimulai dengan MENGUSAHAKAN CINTA karya Ani Ema Susanti. Sebuah kisah tentang kehidupan buruh migran di Hongkong. Riantini dan Ruwati adalah WNI yang memilih menjadi TKW di Hongkong karena pendapatan yang lebih memadai daripada di Indonesia. Selain itu, di Hongkong mereka juga mendapatkan kebebasan dalam otonomi tubuh. Seperti Riantini, di perantauan ibu satu anak ini memilih menjadi seorang lesbian. Namun ia takut membawa pulang hubungan cintanya saat kembali ke Indonesia. Sementara Ruwati adalah seorang lajang yang usianya sudah mencapai kepala empat. Ruwati kerap gamang karena keperawanannya sempat dipertanyakan oleh Yanto, calon suaminya di Malang, Jawa Timur, gara-gara ia pernah menjalani operasi melalui alat kelaminnya.

Kemudian PERTARUHAN membawa para penonton melihat UNTUK APA? yang menggambarkan semrawutnya kepercayaan dan konteks di balik praktek sunat perempuan. Di negeri ini, praktek sunat atau khitan pada anak perempuan diterima secara luas oleh berbagai kalangan dengan alasan untuk ‘membersihkan’ anak tersebut dari spirit setan yang akan mengarahkannya menjadi liar. Meski demikian, sampai sekarang masih banyak orang yang tidak sadar akan adanya praktek itu. Dalam film karya Ucu Agustin ini terjadi diskusi atau mungkin perdebatan sejumlah tokoh perempuan terkait praktek sunat pada perempuan.

Masih berkaitan dengan tubuh perempuan. Selanjutnya PERTARUHAN membuka mata kita betapa susahnya perempuan dengan status ‘lajang’ ketika hendak memeriksakan kesehatan reproduksinya. NONA NYONYA? mengisahkan perempuan-perempuan ibu kota yang berusaha mendapatkan akses pelayanan kesehatan namun terbentur persepsi moral pihak obstetri dan ginekolog. Persepsi para petugas medis (kebidanan atau kandungan) terhadap perempuan lajang adalah mereka yang tidak berhubungan seksual. Oleh sebab itu, jika ada pasien berstatus lajang yang datang untuk minta diperiksa, petugas medis justru lebih sibuk ‘memeriksa’ moralitas pasien yang bersangkutan. Bahkan seorang dokter berceramah tentang moral secara panjang lebar lebih dulu ketika seorang perempuan lajang meminta diperiksa Pap Smear. Intinya NONA NYONYA? mempertanyakan pentingnya kesehatan versus penilaian moral.

Terakhir, PERTARUHAN ditutup RAGAT’E ANAK dengan cerita dua perempuan, Nur dan Mira. Mereka berdua adalah pekerja seks di Gunung Bolo Tulungagung, Jawa Timur. Gunung Bolo adalah kompleks kuburan Cina yang berbentuk bukit. Di malam hari, kompleks kuburan ini beralih fungsi menjadi lokasi prostitusi liar. Namun, selain berprofesi sebagai pekerja seks, Nur dan Mira juga bekerja sebagai pemecah batu. Pagi hari mereka memecah batu dan malamnya bekerja di Gunung Bolo. Meski sepanjang hari mereka bekerja keras namun pendapatannya tidak pernah mencukupi. Semua itu mereka lakukan untuk membiayai kebutuhan anak.

***

Tertarik untuk nonton? coba aja klik di http://www.kalyanashirafound.org dan cari info bagaimana untuk mendapatkan DVD film PERTARUHAN. Katanya sih mereka akan bagi-bagi DVD film PERTARUHAN kepada masyarakat umum yang menginginkannya. Mudah-mudahan dibagi secara gratis juga. Hehehe... []
Read More..

Minggu, 11 Januari 2009

Perang Agama, Ras, Atau...



Israel memang nyusahin. Kita semua jadi repot. Harus demo, harus mengutuk, harus wiridan. Qunut nazilah. Diskusi sana-sini. Belum keluar duitnya. Utus orang untuk bantu penanganan kesehatan. Macam-macam. Anda semua juga pasti jadi repot. Ngerusak acara. Ngaco irama. Program kita jadi ekstra ini-itu. Hati jadi rusuh. Pikiran mesti menanggung beban dan mengolah hal-hal yang mestinya tak perlu. Saya diserbu SMS. Ada yang info saja, ada yang mobilisasi. Ada yang menuntut supaya saya turut menyatakan kutukan, seolah-olah ada yang tertarik memerlukan kutukan saya. Lebih-lebih lagi seakan-akan kutukan saya akan mampu mengubah arah terbangnya nyamuk.

"Kenapa sih Cak kok semua pembicaraan tentang penyerbuan Israel ke Gaza hanya satu saja temanya: kekejaman?" kata sepotong SMS.

Saya jawab dengan jengkel, "Pertama, kok nanya saya? Kedua, emang saya tahu apa tentang itu? Ketiga, orang lagi perang, kita diskusi."

"Kenapa tidak ada analisis yang agak luas, yang historis-komprehensif tentang segala hal yang melatarbelakangi konflik itu."

"Walah! Mana saya paham...."

"Kan harus diperjelas oleh kita semua bahwa konflik Israel-Palestina itu konflik ras, konflik agama, atau apa? Kalau ras, kan banyak juga warga Palestina yang beragama Nasrani. Apakah ini perang agama Yahudi melawan Islam-Kristen? Kalau ya demikian, mestinya semua umat Islam di dunia bahu-membahu dengan semua umat Protestan dan Katolik melawan Yahudi. Hancur dong Israel ngelawan Arab Saudi dan negara-negara Islam lain, Indonesia, gabung sama Amerika, Jerman, Inggris dll. Dengan catatan bahwa agama mayoritas penduduk menentukan sikap pemerintahnya."

"Ya, lantas?"

"Orang beragama Yahudi kan juga tidak hanya ada di Israel, tapi juga di mana-mana, terutama negara-negara Barat, bahkan di Amerika Serikat banyak menguasai berbagai kunci strategis di bidang politik dan perekonomian. Berarti akan terjadi multikonflik di berbagai negara ndak karu-karuan di antara pemeluk tiga agama itu, kecuali Indonesia...."

Saya goda, "Indonesia tak kalah serem konflik internalnya. Kan Yahudi itu bukan tidak ada di Indonesia. Jewish mirip-mirip Jawa, J dan W-nya. Ibu kota Israel saja Java Tel Aviv. Banyak kantor Yahudi di negara-negara Barat selalu pakai kata "Java". Ukiran hias di mahkota para rabi Yahudi mirip ukiran pintu bagian atas di sejumlah tempat pesisir utara Pulau Jawa. Makanya, kalau memang Israel jantan dan punya nyali, suruh serbu Indonesia, ayo kalau berani!"

"Saya serius, Cak."

"Saya juga serius. Kalau Israel berani nyerang kita, persoalan PHK menjadi beres. Jutaan orang yang tak punya kerjaan, jadi punya kerjaan. Pasti senang teman-teman itu kalau ada situasi perang. Hidup nggak ada harapan kok ditantang berkelahi, ya ayo!"

"Jadi, menurut Cak Nun, itu perang agama atau bukan?"

"Emang saya ahli Timur Tengah? Pakar agama? Nyang bener aje...."

"Atau perang ras?"

"Kalau saya sih ndak penting ras, agama, atau apa pun, pokoknya tidak perang."

"Kalau ras, kayaknya nggak juga. Kan di Israel sendiri ada demo menentang keputusan perdana menteri mereka yang memutuskan penyerbuan itu. Orang Yahudi kan tidak semua Zionis. Banyak juga orang Yahudi yang anti-Zionisme, baik dari kalangan Yahudi Askinazim maupun Sepharadim. Bahkan bukan tidak ada orang Yahudi yang beragama Kristen atau Islam. Atau malah jangan-jangan ada juga Yahudi beragama Kristen atau Islam tapi pro-Zionisme."

"Anda ini bingung kok ngajak-ngajak saya!"

"Saya ini mau tahu itu sebenarnya konflik apa? Kok nggak ada ujungnya, nggak ada selesainya, kayaknya sepanjang masa."

"Salah alamat kalau nanya ke saya. Yang paling efektif dan produktif, bertanya kepada Tuhan."

"Apa urusannya ama Tuhan?"

"Lho, cacing saja punya garis keterkaitan yang logis rasional dengan Tuhan."

"Emang Tuhan mungkin terlibat dalam peperangan?"

Saya jadi gatal ingin menggoda lebih lanjut. "Kan seolah-olah Tuhan menggambarkan bahwa kehidupan ini begini: Ia memperjalankan manusia di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Kan begitu di Surah Al-Isro. Hidup ini ulang-alik berdialektika dari dan di antara kegembiraan dan duka, di antara cahaya dan kegelapan, di antara yang menyenangkan dan yang menyusahkan, di antara yang bikin hati semringah dengan yang bikin hati gerah. Kalau ingat Masjidil Haram, hati senang. Lantas ingat Masjidil Aqsa, hati jadi rusuh lagi. Dan itu semua berlangsung di malam hari. Artinya hidup ini kegelapan: kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi semenit mendatang. Apa kita penjual nasi, sopir taksi, pengusaha besar, pejabat tinggi, atau siapa pun: tidak tahu persis dagangan kita laku berapa, saham kita anjlok atau tidak, di depan sana ada calon penumpang nyegat taksi saya atau tidak. Hidup adalah malam hari. Dan seluruh SMS Anda itu seratus persen mencampakkan
saya ke kegelapan malam...."

"Gini aja, deh," kata SMS itu lagi, "kenapa sih kok Arab Saudi dan negara-negara Arab Islam tetangga Palestina tidak ngebantuin? Bahkan Iran yang dulu mengancam akan kirim rudal, nggak juga sampai sekarang."

"Mau saya teleponkan Pak Ahmadinejad sekarang?"

"Saya serius, Cak"

"Saya tidak hanya serius mikirin Palestina, tapi juga makin stres mikirin pulsa....".

(Emha Ainun Nadjib/Koran Tempo/6 Januari 2009/PadhangmBulanNetDok)
Read More..